Anjing

Client Education Series (Gastric Dilatation Volvulus)

pdhbvet.com Client Education, Education 5 Comments , , , , , ,

GASTRIC DILATATION VOLVULUS/ TORSIO LAMBUNG/BLOAT

oleh: drh. Diah Pawitri

Apakah yang di maksud dengan GDV/Bloat/torsio lambung?

Suatu keadaan dimana lambung mengembang berisi gas ( gastric dilatation) yang dapat menyebabkan shock dan kematian. GDV bisa diartikan lambung yang mengembang berisi udara dan terpuntir pada sumbu longitudinal (volvulus).

BAGAIMANA BISA TERJADI? 

Penyebab utama belum di ketahui tetapi di duga karena anjing memakan dogfood kering dalam jumlah besar kemudian meminum banyak air sehingga menyebabkan dogfood mengembang dan pada saat bersamaan hewan tersebut melakukan aktifitas berlari atau melompat sehungga menyebabkan lambung terpuntir.  Ada teori yang menyatakan lambung kehilangan ritme kontraksi reguler sehingga udara terjebak di dalamnya sehingga menyebabkan lambung terpuntir.

BAGAIMANA MENGETAHUINYA?

  1. Breed pre disposisi : pada anjing dengan dada yang dalam dan ras besar atau raksasa ( Great danes, Irish, German Shepherds, Bassett Hounds, Afgan Hounds)
  2. Lambung terlihat besar melewati tulang iga, palpasi lambung berisi udara (dari sebelah kiri)
  3. Anjing gelisah dan stress, nafas sesak .
  4. Hewan shock

 

GDV VD

GDV LR

Gambar Lambung anjing yang mengalami GDV, terlihat lambung berisi udara (Radiolucent, pneumogastric). Posisi Ventro-dorsal (gambar atas), posisi lateral (gambar bawah)

APA YANG TERJADI JIKA LAMBUNG MENGEMBANG TERISI UDARA?

Jika lambung membesar isi udara menyebabkan tekanan pada vena besar pada abdomen yang membawa darah kembali ke jantung, akibatnya adanya kekurangan dari output darah dari jantung.  Pengurangan darah pada lambung menyebabkan  jaringan akan kekurangan darah dan oxygen, jika tidak segera di tangani akan menyebabkan rupturnya dinding lambung.

Digesti juga terhenti saat terjadi sumbatan pada lambung sehingga toxin akan terakumulasi yang mengakibatkan peradangan serta terserapnya toksin ke dalam sirkulasi darah, dan terjadi DIC (disseminated intravascular coagulation)

BAGAIMANA MENYELAMATKAN KEHIDUPAN SI ANJING?

  1. Bawa segera ke dokter hewan terdekat karna shock harus segera di tangani dengan  cairan intravena
  2. Tekanan udara dalam lambung harus segera di keluarkan, dokter akan memasukan stomach tube dari mulut ke lambung atau menusukkan jarum besar dari kulit luar ke lambung.
  3. Operasi pengembalian posisi lambung, dan gastropexy ( menggantungkan lambung ke dinding perut agar kejadian ini tidak terulang)

CANINE DISTEMPER VIRUS

pdhbvet.com Client Education 5 Comments , , ,

CANINE DISTEMPER VIRUS

By: drh. Putri Sajuthi

 

Distemper merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus CDV (Canine Distemper Virus). Penyakit ini lebih sering terjadi pada anjing muda dengan umur < 1 tahun, tetapi dapat juga terjadi pada anjing dewasa (1 – 10 tahun) yang tidak pernah divaksin atau vaksin tahunan tidak rutin. Penyakit ini menyerang 3 organ utama yaitu: saluran pernafasan, saluran pencernaan dan sistem saraf. Selain 3 organ utama tersebut, penyakit ini juga dapat menyerang kulit dan mata. Kulit anjing yang terkena distemper akan menjadi kemerahan dan mengelupas, selain itu kulit pada telapak kaki (pad) akan mengeras sehingga dikenal pula dengan istilah hard pad disease.  Pada beberapa kasus distemper,  kerusakan juga dapat terjadi pada kornea mata, kornea mata akan tampak berwarna lebih keruh dan kadang disertai dengan luka pada kornea yang dapat berujung pada kebutaan.

Gejala klinis yang tampak pada awal penyakit ini bervariasi. Gejala paling umum yang terlihat pada anjing distemper adalah lesu, nafsu makan menurun, mata belekan dan disertai adanya muntah dan diare pada distemper yang menyerang saluran pencernaan atau pilek dan batuk pada distemper yang menyerang saluran pernafasan.

distemper

Gambar 1. Anjing yang Terkena Distemper Tahap Awal (tampak lesu, kurus, mata belekan dan anoreksia)

 

Distemper yang menyerang sistem saraf merupakan distemper yang paling parah dibandingkan dengan distemper lainnya. Gejala yang timbul pada distemper yang menyerang sistem saraf adalah kedutan terutama pada kelopak mata dan bibir, hiperesthesia (berasa sakit jika disentuh) dan kejang. Distemper yang menyerang sistem saraf ini bisa terjadi dengan diawali adanya distemper pencernaan maupun pernafasan terlebih dahulu, namun bisa juga langsung. Untuk memastikan apakah benar anjing tersebut menderita distemper dapat dipastikan dengan menggunakan test kit distemper yang terdapat di dokter hewan.

test kit

Gambar 2. Hasil Test Distemper Positif

Sampai saat ini pengobatan spesik untuk membunuh virus distemper tersebut belum ada, sehingga obat-obatan yang diberikan biasanya hanya berupa antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Prognosa (peluang sembuh) dari penyakit distemper yang hanya menyerang sistem pernafasan maupun pencernaan adalah 50%, sedangkan untuk distemper yang menyerang sistem saraf, peluang hidup < 10% yang artinya tingkat kematian pada penyakit ini sangat tinggi. Sehingga cara terbaik untuk menghindari terjadinya penyakit ini adalah dengan melakukan vaksinasi.

 

 

 

 


SMALL BOWEL INTUSSUSCEPTION SECONDARY TO PARVOVIRUS INFECTION IN A DOG

admin Vet Information 1 Comment , , , , , , , , ,

SMALL BOWEL INTUSSUSCEPTION SECONDARY TO

PARVOVIRUS INFECTION IN A DOG : CASE REPORT

 

Endang Yuli A., Royama Sari,

Herlina, Cucu K. Sajuthi

24 HRS Veterinary Clinic Drh. Cucu K. Sajuthi and Associate

Ruko Nirwana Sunter Asri Tahap III Blok J-1 no.2 Sunter, North Jakarta-Indonesia

Keywords: Dog, Intussusception, Parvovirus, Small Bowel

 

INTRODUCTION

 

Intussusception is a telescoping of one intestine segment into an adjacent segment. Intussusception is associated with active enteritis, especially in young animals5. The exact cause is unknown. It is considered a sign of underlying disorder, such as parvovirus infection, severe intestinal parasitism, and intestinal obstruction2. Diagnosis of intussusception was based most often on clinical signs of bowel obstruction in association with the palpable abdominal mass3.

Intestinal intussuception is the most serious sequela that may develop during treatment for viral gastroenteritis. Altered intestinal motility is implicated. Careful abdominal palpation for the presence of an abdominal mass should be performed daily. Persistent vomiting after apparent clinical recovery should prompt a careful search for intussusception6.

 

MATERIALS AND METHODS

 

       The observation was done to a three-month-old female dog of mixed race. The dog was diagnosed of gastroenteritis due to parvovirus infection. Signalment and medical history were evaluated. Physical examination, diagnostic test (including plain abdominal radiograph, complete blood count, and serum biochemical profile), laparotomy exploration of the abdominal cavity and blood transfusion were performed. The dog died 7 days after surgery and the case was reviewed.

 

RESULTS AND DISCUSSION

 

A three-month-old female dog of mixed race was examined at the 24 HRS Veterinary Clinic Drh. Cucu K. Sajuthi and Associate. The dog was presented with a pale mucous membrane, abdominal pain, anorexia, depression, nausea, severe vomiting, and diarrhea to bloody diarrhea. A parvovirus test kit revealed positive result. The dog was diagnosed with gastroenteritis due to parvovirus infection and hospitalized for intensive treatment but the symptoms were prolonged. The treatment consisted of intravenous (IV) Lactated Ringer’s solution , enrofloxacin , ampicillin, ondansetron and sucralfate.

After a week of treatment, the dog showed clinical recovery, but began to vomit again the next five days. Persistent vomiting after apparent clinical recovery should prompt a careful search for intussusception6. Abdominal palpation of the dog evinced pain and revealed a firm tubular mass (sausage-like mass) inside. Diagnosis of intussusception was based most often on clinical signs of bowel obstruction in association with the palpable abdominal mass3. Plain abdominal radiograph showed gas accumulation and were suggestive of intussusception (Fig. 1). Plain abdominal radiographs allow the diagnosis of intussusceptions because they usually cause minimal intestinal gas accumulation. Intussusception must be treated surgically5. The dog was premedicated with atropine sulphate (0.025 mg/kg body weight SC) and diazepam (0.5 mg/kg body weight). Anesthesia was induced and maintained with isoflurane. Laparotomy exploration of the abdominal cavity revealed intussusception of the jejuno-jejunal segment (Fig. 2). The intussuception could not be reduced manually and the intestinal segment was not viable. The non-viable intestinal segment was resected (Fig. 3) and an end-to-end anastomosis of the viable segments was performed.

After surgery, the blood test was performed. Complete blood count (CBC) revealed severe leukocytosis, severe anemia, and thrombocytosis, and serum biochemical profile (SBP) revealed severe hypoproteinemia and hypoalbuminemia, as shown in Table 1. Whole blood transfusion was administered to treat severe anemia. The dog survived for 7 days after surgery and died because of serious complication.

 

Table 1

Result of blood test including complete blood count and serum biochemical profile

 

Parameter

Result

Unit

Reference Range

CBC :
WBC

58.2

109 /L

6.0-17.0

RBC

2.93

106 //µL

5.50-8.50

Hemoglobin

5.5

g/dL

12.0-18.0

HCT

16.4

%

37.0-55.0

MCV

56

fL

60.0-77.0

MCH

18.8

Pg

19.5-24.5

MCHC

33.5

g/dL

32.0-36.0

PLT

869

109 /L

200-500

Lymphocyte

17.4

%

12.0-30.0

Monocyte

5.3

%

3.0-10.0

Eosinophil

2.2

%

2.0-10.0

Granulocyte

75.1

%

60.0-80.0

Lymphocyte

10.1

109 /L

1.0-4.8

Monocyte

3.1

109 /L

0.15-1.35

Eosinophil

1.3

109 /L

0.01-1.25

Granulocyte

43.7

109 /L

3.5-14.0

RDW

14.7

%

12.0-16.0

PCT

0.49

%

0.00-2.90

MPV

5.6

fL

6.7-11.0

PDW

16.0

%

0.0-50.0

SBP :
AST / SGOT

70

U/L

8.9-48.5

ALT / SGPT

37

U/L

8.2-57.3

Ureum (BUN)

10

mg/dL

10-20

Creatinine

0.4

mg/dL

1-2

Total Protein

2.6

g/dL

5.4-7.5

Albumin

0.8

g/dL

2.6-4.0

Total Bilirubin

0.246

mg/dL

0.07-0.61

GGT

3

U/L

1.0-9.7

ALP

328

U/L

10.6-100.7

PARVOVIRUS

Figure 1 – Plain abdominal radiograph revealed gas accumulation (arrow) : (A) Ventrodorsal; (B) Left lateral recumbent

PARVOVIRUS3

Figure 2 – Laparotomy exploration of the abdominal cavity revealed intussusception of the jejuno-jejunal segment (arrow)

PARVOVIRUS2

Figure 3 – The resected of non-viable intestinal segment

Intussusception is a telescoping of one intestine segment into an adjacent segment. Intussusception is associated with active enteritis, especially in young animals5. The exact cause is unknown. It is considered a sign of underlying disorder, such as parvovirus infection, severe intestinal parasitism, and intestinal obstruction2. Intestinal infection of canine parvovirus destroyed intestinal crypts and may produce villus collapse, diarrhea, vomiting, intestinal bleeding, and subsequent bacterial invasion5. Altered intestinal motility is implicated6. The common site in dogs is the ileocolic junction and jejuno-jejunal segments and dogs less than one year age were mostly affected4. Intussusception caused venous obstruction leading to necrosis of intestinal wall and variety of life threatening electrolyte disturbance; endotoxic and septic shock1.

 

 

REFERENCES

[1]   Burrows CF, Merritt AM. 1992. Assessment of Gastrointestinal Function. In Anderson: Veterinary Gastroenterology. 2nd ed. Philadelphia: Lea and Febiger. p16-42.

[2]   Harari J. 2004. Small Animal Surgery Secrets. 2nd ed. Philadelphia : Hanley & Belfus, Inc. p164.

[3]   Levitt L, Bauer MS. 1992. Intussusception in Dogs and Cats: A Review of Thirty-Six Cases. J. Can. Vet. 33: 660-664.

[4]   Lewis DD, Ellison GW. 1987. Intussusception in dog and cat, Comp Contin. 9: 523.

[5]   Nelson RW, Couto CG. 2003. Disorder of The Intestinal Tract. In: Text Book of Small Animal Internal Medicine.  3rd ed. St. Louis: Mosby Inc. p433-434 and p455-456.

[6]   Tams TR. 2003. Handbook of Small Animal Gastroenterology. 2nd ed. St. Louis: Saunders Elsevier Science. p204-205.